PM Boris Johnson Ucap Pilih Mati Dibanding Tunda Brexit

PM Boris Johnson Ucap Pilih Mati Dibanding Tunda Brexit

Selesai 2x menerima kekalahan di parlemen, Pertama Menteri Inggris Boris Johnson sekarang kembali mengemukakan datahk pengakuan polemis. Diakuinya lebih pilih mati daripada kembali minta penangguhan tenggat pengunduran diri negara itu dari Uni Eropa (Brexit). “Saya lebih baik mati di selokan dibanding harus minta Uni Eropa kembali tunda Brexit,” kata Johnson waktu menyampaikan pidato di Akademi Kepolisian Wakefield, West Yorkshire, seperti dikutip AFP, Jumat (6/9).

Dalam pengambilan suara pada Rabu lalu, parlemen putuskan melawan gagasan Johnson untuk lakukan proses pengunduran diri negara itu dari Uni Eropa (Brexit) tanpa ada persetujuan. Mereka menampik memberi dukungan saran Johnson untuk mengadakan penentuan umum celah. Anggota parlemen yang menampik saran Brexit Johnson sampai 328 orang. Sedang yang sepakat sekitar 301 orang.

Sekitar 21 orang ialah anggota fraksi Konservatif. Mereka selanjutnya ditendang dari partai. Pemimpin oposisi sekaligus juga Ketua Partai Buruh, Jeremy Corbyn, menjelaskan ia sebetulnya memberi dukungan pemilu celah asal Johnson janji tidak lakukan Brexit tanpa ada persetujuan. Sedang Johnson mengaku perundingan Brexit dengan Uni Eropa alami perkembangan.

Baca juga : Jerman Ikut Bersedih Karena Kepergia BJ Habibie

Kita harus keluar dari Uni Eropa pada 31 Oktober,” kata Johnson. Sang adik, Jo Johnson, yang melawan Brexit putuskan mundur dari jabatan Menteri Junior Kampus sesudah Johnson kalah dalam voting di parlemen. Bila Majelis Rendah sukses loloskan RUU menampik Brexit tanpa ada persetujuan, karena itu dapat memaksakan Johnson kembali tunda proses itu sampai 31 Januari 2020. Tetapi, Johnson mengatakan akan kembali ajukan saran pemilu celah pada Majelis Rendah pada Senin minggu kedepan, serta melawan oposisi untuk memberi dukungan kesempatan ini.

RUU yang diserahkan Majelis Rendah harus juga di setujui lebih dulu oleh Majelis Tinggi sebelum disahkan. Ini membuat masalah Brexit kembali dihantui ketidakjelasan serta cemas kembali jadi kritis politik sama dengan masa bekas perdana mentri, Theresa May. Uni Eropa sampai sekarang belum berlaku masalah pembicaraan baru masalah Brexit di Inggris. Tetapi, Menteri Masalah Eropa Prancis, Amelie de Montchalin, mengatakan tidak baik bila tenggat Brexit kembali mundur.

“Saya lihat memberi kembali perpanjangan sepanjang enam bulan tidak mengakhiri permasalahan,” kata Amelie. Di lain sisi, parlemen Inggris harus juga usaha keras untuk mengakhiri RUU itu sebelum waktu reses pada akhir minggu depan. Menurut Corbyn, hal tersebut ialah peluang paling akhir untuk menahan kericuhan kondisi bila Brexit dikerjakan tanpa ada persetujuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

BACK TO TOP
Skip to toolbar